Sang Humoris itu Kini Tiada

Namanya Yustinus Dauky Bawi. Pertama ketemu dan kenal bulan Agustus 2010. Di kala sama-sama mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Jayapura. Kota metropolitannya West Papua.

Bawi. Begitu kami sebut dan panggil dia. Selama empat tahun kami habiskan waktu di kampus bersama.

Dia anaknya sangat sederhana, pendiam, tenang, rendah hati, jujur dan sangat polos.

Satu gurauan yang paling akan diingat adalah kisah “Bakso Asin” di tanah hitam. Juga cerita cari matoa di Genyem. Banyak cerita kita ukir bersama. Mulai dari kasi nama Caster (Penyiar) karena kami memang di kelas Broadcast, tapi kami beri kepanjangan Cari Sensasi Terus. Di angkatan kami, kami kelas yang mungkin paling kompak dari dua kelas lainnya. Di Jurnalistik dan Humas.

Bersama Yustinus, cerita keakraban kami dimulai dari pantai Base-G.
Kami manfaatkan hari libur untuk bakar ikan. Kami ada Jerry Puraro, Ezra Wally, Novy Dwy Sawaki, Jermias Satung, Bernafas Masoka, Daeng Arif Saputra. Juga Yohanes Yanuaring si pecinta reggae. Ada yang lain juga, Kleopas Sobolim, Yulianus Deba, Fransiskus Goo, Isak Soo, Jackson Tapplo,, Amriyai, Marlena Moai, Marlena Wandikbo, Arnold Belau, Soleman, Edi dan beberapa yg sa lupa nama (maaf). Ada Edison Dimara dr kelas Jurnalistik yang biasa ikut.

Selama empat tahun, tak pernah kehabisan ide untuk mengisi setiap libur kami. Mulai dari main futsal rutin, bakar2 ikan di pantai, tengok tahu Tek, ke pantai Harlen, bermalam sampe dua hari, ke Genyem cari Matoa, ambil alih radio kampus dan menyiar tiap sore, ke air terjun di kampung Harapan, sampe ada cerita pembantu ketua III, tegur di gegara putar lagu Lucky Dube di ruang menyiar, hahaha. Sampe dengan bikin film dengan judul “Hilang”. Terakhir, PKN sama-sama di Kampung Yoka, lalu mengerjakan laporan di Tirta Mandala, Jayapura Utara.

Semua itu dilakukan bersama. Ada sosok Bawi. Dia selalu hadir apa adanya, bila ada yang ledekin, dia selalu balas dengan senyuman khasnya.

Saya terakhir berjumpa dengan Bawi di depan Ramayana, Kotaraja. Kala itu dia hendak ke Mandala. Mau tonton Persipura main katanya.

Lalu dia juga bilang, kalau dia sedang jadi tenaga honorer di salah satu kantor di Pegunungan Bintang, Papua.

Korim. Begitu dia selalu panggil saya. Juga phay Ezra Wally panggil saya juga demikian. Kami semua bertahan, dari awal masuk, sampai selesai dengan target 4 tahun berjalan lancar.

Tepat pada 1 November 2014 kami diwisuda. Ini satu momen paling bagus yang tak akan pudar dari ingatan.

Saat pesawat Trigana jatuh di Pegunungan Bintang, salah satu kawan baik, Markus Kalakmabin yang tumpangi pesawat itu meninggal. Berikutnya ada nama Alfons Kalakmabin, dia juga saya dengar telah meninggal.

Satu kabar lagi yang bikin saya kaget skali datang. Kabarnya, seminggu lalu saya dengar dari seorang kawan, Jerry Puraro. Bahwa Yustinus Dauky Bawi telah berpulang pada Maret lalu.

Saya tak percaya. Kunjungi Wally FBnya. Dan memang benar ia telah berpulang. Tepatnya pada 2 Maret 2017. Saya baru tahu kabar itu setelah beberapa bulan. ����

Markus Kalakmabin, Alfons Kalakmabin dan Yustinus Bawi. Semua dari Pegunungan Bintang. Mereka hebat dan luar biasa. Semangat belajar tinggi. Punya impian dan cita2 yang luar biasa. Yang saya hormat dari mereka adalah setelah selesai, mereka kembali ke kampung untuk mengabdikan diri melayani masyarakat.

Selama empat tahun, ke tiga kawan ini tak pernah takut dan malu untuk meminta bantuan. Mereka selalu sampaikan terbuka pada saya. Juga mungkin pada yang lain. Biasanya mereka meminta tolong untuk antar pulang dari kampus, atau meminta uang angkot.

Saya tak pernah menjadi menutup diri. Sayangnya, semua cita-cita untuk mengabdikan diri pada masyarakat harus putus. Berhenti begitu saja di tengah jalan.

Hidup memang kejam.  Kadang sangat adil, kadang sangat tak adil, kawan. Kita semua punya waktu untuk berpulang kembali pada asal kita.

Satu pertanyaan yang bikin sakit hati: Kenapa harus mati muda?
Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Dan kita sebagai ciptaannya siap untuk dipanggil pulang kapan saja.

Kawan Bawi, Korim e… sungguh sa hormat. Terima kasih untuk kenangan-kenangan manisnya. Saya tahu, dikau mendapat tempat yang semestinya ko dapat. Rest In Love my best friend forever.

Yep Korim.

Advertisements

One thought on “Sang Humoris itu Kini Tiada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s