Maya (Bagian II)

Ilustrasi mencari loker di Koran.

Dan di halaman paling terkahir koran itu, ia melihat sepintas isi koran itu dari atas sampai bawah. Dengan penasaran matanya tertuju ke pojok kanan atas koran itu. Di pojok kanan atas, ada satu kolom yang dipagari dengan garis hitam berbentuk kotak. Di dalam kotak itu, ada tulisan berjudul ‘Pengumuman’.

Ia segera menutupnya dengan telapak tangan kanannya. Ia yakin benar-benar bahwa apa yang ia cari ada di dalam kotak itu. Isi space Koran itu tidak ia hiraukan sama sekali. Walaupun ada beberapa berita olahraga yang paling ia gemari. Yakni berita sepak bola. Koran itu turunkan berita bola tentang klub sepak bola yang paling ia gemari di tanah air.
Adalah klub yang dijuluki Mutira Hitam. Klub yang beberapa pemainnya ia hanya tahu nama. Dan ketika klub ini berlaga, ia selalu dengar siaran langsung di radio saat klub kebanggaannya ini berperang selama 90 menit di lapangan hijau. Ada satu nama yang paling ia ingat. Boaz Salosa. Pada hari itu, ada muka Boaz di koran itu. Tetapi ia tidak perdulikan.

Hanya pada hari itu, ia tidak ada rasa ketertarikan sama sekali untuk membaca berita itu. Karena ia hanya fokus untuk nasib hidupnya di tanah rantauan. Yang hidupnya sangat keras. Ia mencari pekerjaan yang bisa menjamin kelangsungan hidup untuk bertahan di kota sebesar itu.

Lalu ia tarik napas dalam-dalam. Hatinya benar-benar tak karuan. Pemuda itu percaya bahwa itu adalah pengumuman yang ia cari dari tadi. Bahkan lebih dari percaya. Perasaannya sulit digambarkan. Ada rasa penasaran. Ada rasa kekuatiran. Ada rasa gundah. Tetapi ia tetap sadar. Sadar akan konsekwensinya. Apabila dalam kotak itu bukan pengumuman yang ia cari. Dan tahu konsekwensinya kalau saja itu benar pengumuman yang ia maksudkan dan namanya tidak ada di sana.

Intinya, dalam hati ia berkata, ‘saya sadar kalau saya tidak punya keteranpilan untuk mengoperasikan komputer. Dan tidak masalah sekali kalau saya tidak diterima. Yang paling penting adalah saya sudah mencoba,’.

Perlahan-lahan ia mulai menggeser tangan ke arah pojok bawah. Dan itu sudah. Pengumuman yang ia maksudkan. Geser lagi perlahan ke bawah. Nomor paling pertama, bukan namanya. Ke dua juga bukan. Namanya ada di nomor urut tiga dalam daftar nama-nama yang berkasnya telah dinyatakan lolos.

Semua perasaan yang tadinya membuat dada terasa sesak itu, tiba-tiba setelah tahu namanya masuk dalam calon penjaga warnet, suasana hatinya berubah jadi sebuah kegembiraan luar biasa. Dada yang tadinya rasa sesak, kini berubah jadi bebas. Rasanya seperti berdiri di atas bukit yang di samping kiri dan kanan serta muka belakanganya disuguhi pemandangan hijau nan indah dan elok. Serasa tidak ada beban.

Ia membayangkan kegembiraan yang sedang ia alami dan juga kesulitan yang akan ia hadapi bila benar-benar ia akan bekerja di warnet. Ia sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Memahami kondisi itu matanya mulai berkaca-kaca. Kotak yang dipagari dengan garis hitam itu ia potong dengan pisau yang selalu ia bawa ke mana mana. Ia sangat gembira. Karena selain berkasnya dinyatakan lolos, namanya masuk di koran terbesar di kota itu pula. Tak pernah ia bayangkan bahwa satu ketika namanya akan masuk di Koran. Dan baginya peristiwa yang terjadi pada hari itu adalah sebuah mujizat.

Seharian hatinya diliputi rasa kegembiraan yang luar biasa. Ia ingin segera mengabarkan pada keluarganya bahwa ia sudah mendapat pekerjaan. Tetapi niat itu tidak bisa diwujudkan. Sebab ia tidak punya telepon genggam. Juga di kampugnya tidak ada signal. Ia ingin mengirim surat. Tetapi lagi-lagi ia tidak tahu harus kirim lewat apa dan lewat siapa. Tidak bisa. Pada akhirnya ia menguburkan niatnya itu dalam-dalam.

Besoknya, ia mendatangi warnet yang membuka lowongan pekerjaan itu. Dalam dompetnya, uang tersisah hanya 50 ribu. Sejak datang, dia tidak langsung sampaikan bahwa ia adalah salah satu peserta yang dinyatakan diterima untuk bekerja di warnet itu. Tetapi ia masuk untuk melihat sejenak aktifitas yang dilakukan di dalam warnet itu.

Ia duduk di bangku yang ada di sudut ruangan dekat pintu utama. Ia melihat dan pantau setiap aktifitas di ruangan itu dengan seksama. Penjaga warnet yang ada tidak jauh darinya menawarkan untuk menggunakan jasa warnet itu. Tetapi ia tidak mau. Karena memang ia tidak tahu mengopersaikan komputer. Dan ia datang dengan niat bukan untuk menggunaan jasa warnet itu. Tetapi ia datang sebagai pengenalan caon tempat kerjanya.

Pada hari itu, di warnet itu, ia bisa melihbat secara langsung dan dekat bahkan di depan mata, barang yang namanya komputer. Barang yang ia hanya tahu nama. Setelah ia bisa merantau baru ia bisa melihat dari dekat, ‘komputer’ yang namanya ia hanya tahu dan sering dengar nama itu disebut oleh Irma. Penyiar favoritnya waktu di kampung. Setiap acara di radio yang penyiarnya Irma, tak pernah ia lewati. Sampai-sampai setelah dua bulan lebih di kota metropolitan, ia rindu untuk mendengar suaranya. Karena selama di sana ia belum pernah dengar radio. Semua orang pada menggunakan telepon genggam. Baca koran dan menonton TV bila ingin mendengar berita. Ini satu revolusi perubahan alam kehidupannya.
Bahkan ia dilema berat, kenapa tidak ada orang yang menggunakan radio.

Ia heran, kalau pun ada mendengar radio, sudah tidak ada yang bentuknya seperti Tape tetapi semua mendengarnya sendiri-sendiri melalui HP. Padahal kalau di kampungnya, ia bisa dengar radio bersama adiknya yang bungsu, atau ayahnya. Karena mereka tiga inilah yang punya hobi yang sama, yaitu ketertarikan mereka pada klub Mutiara Hitam.

Dengan penasaran, sambil duduk ia intip apa yang dilakukan oleh penjaga warnet itu. Sambil bertanya-tanya tentang aktifitas harian dari penjaga warnet itu. Terutama tugas yang biasa dilakukan oleh seorang penjaga warnet. Dengan sabar, si pengaja warnet itu menjelaskan tentang aktifitasnya di warnet.

Dia berfikir untuk meminta penjaga warnet itu ajar cara menghidupkan dan mematikan komputer, tetapi tidak bisa. Karena orang yang ada di depannya ini tidak ia kenal sama sekali. Ia sedang bimbang. Sama seperti orang yang sampai di perempatan jalan yang tidak tahu arah jalan yang harus dipilih dan tempuh. Ia benar-benar bimbang. Terjadilah pergolakan kecil di dalam batin. Ada rasa sedikit menyesal, kenapa harus ia masukkan berkas. Kalau dari awal ia tahu bahwa warnet itu bersentuhan langsung dengan komputer, ia bakal tidak akan masukan berkas. Tetapi, saat ini ia diterima sebagai calon pekerja. Apa boleh buat. Galau seperti orang baru putus cinta. Tidak tahu mau buat apa. Itu yang ia rasakan saat itu.

Penjaga warnet itu beritahu, kalau mulai besok, ia tidak akan bekerja lagi di warnet itu. Karena ia harus mudik ke kampungnya. Ia tidak tanya banyak. Ia jadi tahu, kenapa ‘Maya’ yang dalam bayangannya adalah pemilik warnet itu mau merekrut pekerja baru.

“Saya bosan kerja di dunia Maya. Sudah setahun lebiah saya kerja di sini. Jadi saya mau pulang ke kampung,” kata penjaga warnet itu.

Hatinya tambah kacau. Dalam benaknya, tergambar seorang wanita cantik yang namanya ‘Maya’. Ia yakin 100 persen bahwa ia akan bekerja untuk pemilik warnet yang bernama Maya. Walaupun penasaran tidak ia tanya. Tetapi penasaran itu membuatnya makin jadi-jadi. Hingga akhirnya setelah sejam lebih berlalu, ia putuskan untuk menggunakan jasa internet itu. Ia tanya ada ruang yang kosong atau tidak. Dan penjaga warent itu menujukkan ruang kecil yang ada tidak jauh dari hadapnnya. Ruang nomor 3.

Dengan kebimbangan yang luar biasa, ia beranjak dari tempat duduknya itu menuju ke ruang kecil yang berisikan satu set komputer dan satu kursi dan ada juga headset.
Ia melirik jam dinding di ruangan itu. Jam 12: 15 siang. Ia ingin sekali untuk sholat. Meminta petunjuk. Tetapi tidak mungkin ia lakukan. Karena di daerah itu, ia tidak tahu masjid ada di mana. Ia lalu duduk di kursi. Berhadapan langsung dengan komputer. Ia tidak tahu mau tekan apa untuk hidupkan komputer. Ia perhatikan bentuk komputer, mouse, CPU, monitor dan headset yang ada di atas meja itu dengan cermat.

Sudah 15 menit ia di dalam ruang kecil itu tanpa menghidupkan komputer. Akhirnya ia meminta tolong pada yang menjaga warnet. Dengan alasan komputernya tidak bisa dihidupukan. Penjaga itu pun datangi ruang kecil nomor 3 itu. Ia mencoba untuk nyalakan. Dan akhirnya bisa. Sebenarnya itu alasana agar ia melirik cara hidupkan komputer dari penjaga warnet itu. Ia ingat betul dan simpan dalam longterm memorynya. tombol kecil yang tadi ditekan oleh penjaga itu.

Kemudian, setelah komputer hidup. Ia tidak tahu harus buat apa. Sentuh mouse, ada tanda panah warna putih yang bergeser ke kiri dan kanan di layar monitor itu. Taru headset di kepala, tidak ada satu pun suara atau tanda yang ia dengar. Ia tidak tahu mana yang klik kanan dan klik kiri. Kebimbangannya pun bertambah.

Sejam lebih ia habiskan untuk duduk bertatapan dengan komputer. Ia heran, anak-anak kecil yang umurnya jauh di bawah umurnya dengan santai dan tanpa ada rasa takut berasik-asikan main game online. Hingga akhirnya ia putuskan untuk keluar. Intinya, ia sudah melihat dari dekat, bahkan pegang langsung barang yang namanya komputer. Ia meminta tolong untuk penjaga warnet matikan. Penjaga warnet itu bingung. Kok waktu mau hidupkan komputer, ia minta tolong, dan sekarang waktu mau log out juga meminta tolong. Tetapi sebagai pelayan, ia harus membantunya dengan alasan apa pun.

Besoknya, sesuai dengan pengumuman, ia harus datang ke warnet itu. Hari awal di mana dia akan bekerja sebagai penjaga warnet.

Setelah keluar dari warnet itu, ia harus bejalan kaki sejauh lima kilometer agar bisa sampai ke tempat tinggalnya. Pondok kecil yang ada jauh dari bising jalanan. Ia tinggal bersama beberapa orang yang juga rata-rata datang dari kampung untuk beradu nasib di kota metropolitan itu. Ia hanya kenal satu pria yang sejak awal dia datang, ia ketemu di terminal. Berkat orang itu, ia tidak susah untuk mencari tempat tinggal. Karena orang itu menawarkan tempat tinggal. Walaupun tidak layak tempat tinggalnya, ia harus terima karena memang tidak ada tempat tinggal dan ia orang baru di kota yang kemajuan sudah jauh lebih maju 1000 langkah dari kampungnya.

Sesampainya di rumah, di benaknya terus tergambar bentuk komputer yang ia lihat dan bertatapan langsung dengan komputer selama satu setengah jam di warnet tadi. Ia sampaikan pada temannya itu bahwa ia mulai besok, ia akan bekerja di sebuah warnet. Lagi-lagi pria itu bilang, kalau internet itu berhubungan dengan dunia Maya. Pemuda itu menganggukan kepalanya. Ia tetap pada pemahaman dia tentang ‘Maya’. Sosok perempuan yang cantik. Dan itu adalah pemilik usaha warnet.

Pagi-pagi benar ia mandi seadanya, karena ia harus jalan kaki lagi lima kilometer. Dan setelah mandi ia mulai jalan. Setelah sampai di warnet, ia berjumpa dengan satu orang yang juga calon pekerja. Mereka semua menunggu pemilik warnet. Ia keringatan. Bajunya sedikit basah.

Tidak lama kemudian, pemilik warent pun datang. Dan….

Bersambung…

NB: Catatan ini saya salin ulang dan publissh di sini dari catatan di FB yang saya unggah pada 18 Maret 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s